ANALISIS KERETAKAN PELAT ZONA LAMBUNG KAPAL BERBAHAN FIBER GLASS

Amir Marasabessy

Sari


INTISARI

Produksi kapal fiber glass di berbagai galangan kapal di Indonesia proses laminasi  masih dilakukan secara manual (hand lay-up) di areal terbuka, hal ini sangat rentan terjadi udara terperangkap (air trap) yang dapat menimbulkan lepuh (blistering). Perawatan  pitting defect akibat blistering,  oleh galangan kapal hanya  disekrap, dibersihkan, didempul, diratakan/dihaluskan dan gelcoat painting. Tujuan penelitian adalah menyelidiki penyebab kerusakan/keretakan pelat zona lambung berkaitan dengan blistering. Metode yang digunakan adalah mengamati proses produksi dan pemeliharaan zona lambung kapal fiber glass dan pengujian pelat blistering zona lambung yang dibandingkan dengan pelat asli menggunakan peralatan uji FTIR sesuai standar ASTM E1252-07 dengan metode ATR dan Morphology Analysis. Sesuai  pengamatan lapangan, galangan kapal tidak melakukan pengukuran kandungan air di area blistering yang terdapat pitting defect sehingga terjadi peristiwa osmosis sebagaimana ditunjukkan pada spektrum FTIR yakni terjadi penurunan intensitas bilangan gelombang dari gugus puncak 1724 cm-1 ke 1722 cm-1 di samping terdapat puncak tambahan pada sampel pelat blister akibat reaksi hidrolisa pada serat penguat, juga terdapat kerusakan yang signifikan pada pelat blistering dan terdapat rongga sehingga menimbulkan kelembaban dalam serat penguat. Dalam waktu (2 s/d 3) tahun serat penguat akan menjadi rapuh/getas sehingga jika terjadi benturan dengan gelombang laut atau objek lain dapat menyebabkan kerusakan/keretakan.


Kata Kunci


laminasi, blistering, zona lambung, fiber glass, keretakan

Teks Lengkap:

PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.