GUNUNG API PURBA PULAU NUNUKAN, KABUPATEN NUNUKAN, PROVINSI KALIMANTAN UTARA

Pudjo Asmoro

Sari


Pulau Nunukan adalah salah satu pulau terluar di Provinsi Kalimantan Utara. Di bagian Selatan dan Barat merupakan daratan pulau Kalimantan yang dibatasi oleh Teluk Sebuku. Di bagian Timur adalah Pulau Sebatik, yang merupakan daerah perbatasan dengan Malaysia. Secara geografis, Pulau Nunukan terletak pada rentang koordinat 117o35’00” – 117o45’20” BT dan 3o58’00” - 4o9’00” LU. Nunukan tersusun oleh satuan batulempung tua yang terdiri dari batulempung bersisipan batupasir yang mengandung fosil kayu, karbon dan lapisan lignit; satuan batupasir kuarsa yang bagian bawahnya terdiri dari batuan gunung api dan bagian atas berupa batupasir kuarsa bersisipan batulempung; satuan batulempung muda yang terdiri batulempung bersisipan batupasir kuarsa dan mengandung nodul oksida besi dan fosil kayu; satuan konglomerat yang terdiri dari batupasir kuarsa dan konglomerat berkomponen batupasir, rijang, kuarsa dan batuan beku; endapan aluvial yang terdiri dari lempung, pasir, fragmen batupasir, fragmen batulempung dan lumpur. Satuan batuan tersebut membentuk morfologi pulau Nunukan yang terdiri dari perbukitan dan membentuk punggungan berarah barat laut – tenggara, dikontrol oleh arah jurus dan kemiringan lapisan batuan. Daerah Tanjungbatu dan Sei Apok merupakan tempat tersingkap dan tersebarnya batuan gunungapi. Pulau Nunukan didasari oleh gunungapi purba, dimulai dari tubuh gunungapi utama, yaitu gunung api purba Mambunut, membentuk deretan bukit (hogback) berarah barat laut tenggara, terdiri dari aliran lava yang menyisip pada satuan batupasir kuarsa. Gunung api tersebut mengalami penghancuran membentuk daerah depresi. Di dalam daerah depresi tersebut tumbuh gunung api purba Sei Apok. Hasil aktifitasnya terdiri dari aliran lava andesit basal, mikrodiorit, batuan terubah yang mengandung pirit, bunga sulfur serta tuf. Di tempat lain tumbuh gunung api purba Tanjungbatu.Hasil erupsinya terdiri dari beberapa aliran lava, endapan jatuhan piroklastik dan aglomerat, kemudian dilanjutkan dengan tumbuhnya gunung api Panamas yang berbentuk bukit kecil,tersusun dari andesit basal dan terubah sebagian. Semua gunungapi purba tersebut berada pada lingkungan delta – rawa, sehingga selama masa aktifitasnya juga terjadi pengendapan sedimen. Hal tersebut mengakibatkan hubungan antara batuan gunung api dan sedimen saling menjemari dan semua tubuh gunung api yang ada tertutup oleh satuan batulempung muda. Fase akhir dari aktifitas gunungapi purba adalah erupsi samping gunungapi purba Kampung Baru yang bersifat efusif dari magma andesit basal membentuk bukit terisolir.


Kata Kunci


Geologi, Gunung api purba, Nunukan

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Billing, M. P., 1958, Structural Geology, Prentice Hill, Inc, Englewood cliff, New York.

Bouma, A.M., 1962, Sedimentary of flysh Deposits, Ensevier, Amsterdam.

Bronto, S, 2010. Geologi Gunungapi Purba, Publikasi Khusus, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Bandung.

Cas, R.A.F. and J.V. Wright, 1987, Volcanic successions, Modern and Ancient, Allen & Unwin, London, 528.

Cox, K.G., J.D. Bell & R.J. Pankhurst, 1978, The interpretation of Igneous Rocks, George Allen & Unwin, London, 450 p.

Fisher, R.V., 1966, Rocks composed of volcanic fragments, Earth Sci. Rev., 1, 287-298.

Fisher, R.V. and H.U. Schmincke, 1984, Pyroclastic Rocks, Springer-Verlag, Berlin, 472.

Hidayat, S., Amiruddin, Satrianas, D, 1995, Geologi Lembar Tarakan dan Sebatik, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Macdonald, G. A., 1972, Volcanoes, Prentice-Hall, Englewood Cliffs, New Jersey, 510.

Lahee, F.H. 1961. Field Geology, Dallas, Texas.

Travis, B.R. 1955, Classification of Rocks, Quarterly of the Colorado School of Mines.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.